18.10.10

Pak Yadi, Sang Maestro Mangrove dari Rembang!

Rembang – KeSEMaTBLOG. Pak Yadi, Bapak kami, masih saja seperti yang dulu. Selalu bersahaja dan rendah hati. Ditengah pengalamannya di dunia permangrovean yang sudah “bejibun-jibun”, beliau dengan sabar membimbing dan membagikan ilmu mangrovenya kepada anggota baru kami, agar mereka bisa mengerti, memahami dan mengetahui berbagai pengetahuan mangrove, yang telah dimiliki beliau, sebagai hasil dari “pengembaraannya” di bidang pengelolaan ekosistem mangrove dari tahun 1964!.

Sewaktu kami berkunjung ke kediaman beliau, di pertengahan Oktober 2010 yang lalu, beliau yang mungkin sudah berkepala tujuh ini, tetap sehat dan terus semangat didalam mengelola kawasan mangrove Pasar Banggi Rembang, sehingga mengantarkannya menjadi nominasi peraih KALPATARU dari pemerintah Republik Indonesia.

Pengetahuan Pak Yadi sangatlah luas, walaupun beliau tidak mengenyam pendidikan hingga tingkat Profesor, namun para kuli tinta Indonesia, justru banyak menyebut Bapak kami ini sebagai sang Profesor Mangrove dari Rembang. Tak tanggung-tanggung, mulai dari teknik pembibitan, identifikasi jenis, metode penanaman, cara pemeliharaan, hingga konsep pemberdayaan masyarakat dan pengaturan organisasi yang beliau terapkan sendiri secara otodidak di kelompok taninya, tak ayal membuat kami begitu terkagum-kagum. 


Untuk itulah, apabila para wartawan suka menyebut beliau dengan Profesor, tapi kami lebih senang menganugerahi gelar Maestro kepada beliau, karena Bapak kami ini, tak hanya pandai di bidang-bidang mangrove yang teknis dan akademis, tetapi juga sangat piawai didalam mengembangkan diri pribadi beliau, sehingga menjadi pribadi yang sangat hangat, sangat membumi dan sangat rendah hati.

Kami menginap di kediaman beliau selama satu malam, dan banyak berdiskusi mengenai mangrove dan strategi pengelolaannya, yang sampai dengan saat ini tak kunjung juga selesai permasalahannya. Satu hal yang patut kami catat dari hasil perbincangan kami dengan beliau adalah, tak juga terlaksanakannya, mimpi beliau untuk bisa menjadikan kawasan mangrove Pasar Banggi sebagai kawasan ekowisata mangrove. 


Padahal, penelitian dan studi awal kelayakan Pasar Banggi sebagai pusat ekowisata mangrove, telah beberapa kali dilakukan oleh berbagai institusi lingkungan di Indonesia. Hal terakhir inilah yang membuat kami sangat khawatir, karena wacana ekowisata mangrove di Pasar Banggi, sejatinya sudah ada sejak pertama kali, kami bertemu dan berkenalan dengan beliau di awal tahun 2004, yang lalu, di saat kami membantu beliau mendatangkan DPR RI Jakarta ke Pasar Banggi, Rembang untuk menyelesaikan “permasalahan” beliau dengan beberapa dinas terkait, di sana.

Kami hanya berharap, ke depan, pembangunan Pasar Banggi Rembang, sebagai kawasan ekowisata mangrove, akan bisa terwujud, mengingat hutan-mangrove-buatan Pasar Banggi, telah dijadikan rujukan oleh banyak institusi dari daerah hingga pusat di Jakarta, sebagai hutan mangrove percontohan, untuk pusat penelitian, pendidikan dan studi banding atas keberhasilan pengelolaan mangrovenya di kawasan pesisir Indonesia. Semoga saja, dalam waktu dekat ini, impian Pak Yadi, sang Maestro Mangrove dari Rembang, untuk bisa mengekowisatakan kawasan mangrove beliau, bisa segera terwujud dan tak tertunda-tunda, lagi. Amin. Semangat MANGROVER!