26.10.10

KeSEMaT dan KKMD Jawa Tengah Mengadakan Monitoring Mangrove di Kabupaten Pemalang, Tegal dan Brebes Jawa Tengah

Tegal – KeSEMaTBLOG. Pada tanggal 21 Oktober 2010, KeSEMaT yang diwakili oleh Bapak Arief Marsudi Harjo (Direktur Eksekutif) dan Sdr. Farhan Pramudito (DP), Kelompok Kerja Mangrove Daerah Jawa Tengah (KKMD JATENG) dan Pemerintah Provinsi JATENG kembali mengadakan program pemantauan pengelolaan mangrove di 4 (empat) lokasi, yaitu Kabupaten (Kab.) Pemalang, Kab. dan Kota Tegal dan Kab. Brebes, Jawa Tengah. Kegiatan yang dimulai pada pukul 06.00 WIB – 22.00 WIB ini, merupakan kegiatan lanjutan dari rangkaian kegiatan serupa yang telah diadakan pada 3 (tiga) hari sebelumnya, di beberapa daerah pesisir Pantai Utara Jawa Tengah.

Lokasi pemantauan pengelolaan mangrove pertama pada pemantauan kali ini adalah Kab. Pemalang. Pada lokasi pertama ini, rombongan diterima oleh Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, beserta Dinas Kelautan Perikanan (DKP) dan Balai Lingkungan Hidup (BLH). Setelah tanya jawab dan diskusi mengenai kegiatan serta regulasi kebijakan mangrove di Kab. Pemalang selesai, dimana salah satu kebijakannya adalah telah terbentuknya KKMD Kab. Pemalang, rombongan KeSEMaT dan KKMD JATENG yang didampingi beberapa dinas setempat, bergegas meninjau mangrove di pesisir Kab. Pemalang. Secara umum, kondisi mangrove di Kab. Pemalang masih memiliki vegetasi mangrove yang baik, meskipun abrasi mulai terlihat di beberapa lokasi, namun hal tersebut masih dapat disiasati dengan telah dibangunnya Alat Pemecah Ombak (APO).

Dari Kab. Pemalang, rombongan melanjutkan pemantauan ke lokasi selanjutnya, yaitu Kab. dan Kota Tegal. Pada lokasi tersebut, rombongan disambut oleh Kepala Dinas Perkebunan, Pertanian dan Kehutanan, dan BLH. Setelah tanya jawab dan diskusi singkat, dimana pada Kab. dan Kota Tegal belum terbentuk KKMD, rombongan segera memantau perkembangan mangrove pada lokasi tersebut. Keadaan vegetasi mangrove Kab. dan Kota Tegal dapat dikatakan sangat memperhatinkan, dimana abrasi sangat mengancam daerah pesisirnya, terutama pada saat musim angin barat dan timur.


Pada lokasi terakhir, yaitu Kab. Brebes, terasa sangat “istimewa” karena pada lokasi ini rombongan diajak berwisata mangrove di salah satu desa di Kab. Brebes. Rombongan disambut di Kantor Kab. Brebes oleh dinas-dinas terkait. Setelah sesi tanya jawab dan diskusi, maka pemantauan mangrove dilanjutkan di lapangan. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki mobil berjarak kurang lebih 15 km, menuju ke sebuah desa di Kab. Brebes, dimana terdapat kelompok tani tambak yang melakukan rehabilitasi mangrove. Dengan menggunakan perahu, rombongan memantau lokasi-lokasi tambak yang telah berubah menjadi lautan. Selain itu, rombongan juga diajak untuk mengelilingi usaha-usaha penanaman bibit mangrove yang telah dilakukan oleh kelompok tani dan nelayan di lokasi tersebut.

Kesimpulan dari kegiatan pemantauan dan evaluasi mangrove di hari keempat ini adalah bahwa memang perlu dipahami bahwa setiap daerah memiliki cara serta pemahaman yang berbeda, akan pentingnya melestarikan ekosistem mangrove. Namun demikian, pada dasarnya, di setiap daerah telah dilakukan segenap upaya untuk melindungi daerah pesisirnya dengan berbagai cara, yang salah satunya diantaranya adalah dengan cara melestarikan ekosistem mangrove di sekitarnya. Nampaknya, itulah yang telah dilakukan oleh pemerintah serta kelompok-kelompok pesisir di ketiga daerah di atas. Semoga saja, dengan adanya program pemantauan dari KeSEMaT dan KKMD JATENG seperti ini, maka masalah-masalah tentang pengelolaan wilayah mangrove di Indonesia, khususnya di JATENG, akan segera bisa terpecahkan sehingga pengelolaan ekosistem mangrove akan bisa semakin maju dan lebih baik lagi, di masa mendatang.