1.6.13

Ayo, Berkebun Mangrove!

Semarang – KeSEMaTBLOG. Di tahun 2013 ini, pola pikir warga pesisir di Pantura Jawa, sedikit demi sedikit mulai berubah. Setidaknya, fakta ini kami dapatkan secara tersirat, saat Sdr. Amrullah Rosadi (Presiden) besama Bapak/Ibu Anggota Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) Jawa Tengah (Jateng) - lihat foto di samping -, berkunjung ke beberapa titik di Pantura, dalam rangka monev rutin, melihat secara langsung perkembangan kelulushidupan bibit mangrove, hasil program-program rehabilitasi mangrove di pesisirnya.

Berkebun mangrove! Itulah istilah yang saat ini, mulai akrab terdengar, dimana mangrove tak lagi dianggap sebagai tanaman yang “spesial”, melainkan sama seperti tanaman lainnya, yang bisa dibudidayakan di kebun pesisir, dipetik buahnya, dibibitkan dan dipelihara tanamannya, sehingga bisa dimanfaatkan secara bijak dari segi ekonomi, dan terus lestari, terpelihara sepanjang masa.

Seperti kebun teh yang menghampar di pegunungan, seperti kebun mangga dan pepaya yang melimpah di pekarangan, dan kebun-kebun buah lainnya yang buahnya bisa dipetik setiap tahun, maka kebun mangrove juga demikian.

Warga pesisir di Pantura, sudah berhasil membudidayakan dan memetiknya di sepanjang tahun, untuk dimanfaatkan sebagai makanan, minuman dan dijual bibitnya untuk program rehabilitasi pesisir dan lainnya, demi meningkatkan taraf perekonomian mereka.

Kebun mangrove berada di pesisir pantai. Dengan bantuan pasang surut, maka para petani mangrove, tak perlu menyiramnya dengan air setiap pagi dan sore, seperti yang biasa kita lakukan dengan kebun tanaman darat. Hasil dari kebun mangrove ini, terbukti membuat dapur warga terus mengebul.

Dengan konsep kebun budidaya mangrove seperti ini, maka secara otomatis, mangrove bisa terus terpelihara sepanjang masa, yang tentunya akan bisa memaksimalkan fungsi mangrove secara ekologis dan fisik sebagai penyeimbang ekosistem pesisir dan penghalang badai dan tsunami.

Senang sekali, karena walaupun memang pohon-pohon mangrove di Pantura sudah habis lebih dari 90%, namun pengetahuan warganya mengenai fungsi fisik, ekonomi, ekologis dan sumber daya dan jasa mangrove, berangsur-angsur mulai membaik. Dan ini, berdampak baik bagi usaha pelestarian mangrove di pesisir Pantura Jawa dan semoga saja juga di Indonesia. Amin. Semangat MANGROVER!